Silitonga, Angelica Romauli (2026) LEARNING ENGLISH AS A FOREIGN LANGUAGE IN ELEMENTARY SCHOOLS: THE PERSPECTIVES OF STUDENTS WHO ARE POTENTIALLY DYSLEXIC. Undergraduate thesis, Universitas Pendidikan Ganesha.
|
Text (COVER)
2112021153-COVER.pdf Download (8MB) |
|
|
Text (ABSTRAK)
2112021153-ABSTRAK.pdf Download (7MB) |
|
|
Text (BAB 1 PENDAHULUAN)
2112021153-BAB 1.pdf Download (7MB) |
|
|
Text (BAB 2 KAJIAN TEORI)
2112021153-BAB 2.pdf Restricted to Repository staff only Download (7MB) | Request a copy |
|
|
Text (BAB 3 METODELOGI PENELITIAN)
2112021153-BAB 3.pdf Restricted to Repository staff only Download (7MB) | Request a copy |
|
|
Text (BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN)
2112021153-BAB 4.pdf Restricted to Repository staff only Download (7MB) | Request a copy |
|
|
Text (BAB 5 PENUTUP)
2112021153-BAB 5.pdf Restricted to Repository staff only Download (7MB) | Request a copy |
|
|
Text (DAFTAR PUSTAKA)
2112021153-DAFTAR PUSTAKA.pdf Download (7MB) |
|
|
Text (LAMPIRAN)
2112021153-LAMPIRAN.pdf Download (7MB) |
Abstract
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tantangan siswa kelas tiga SD yang berpotensi disleksia dalam belajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing serta menggambarkan interaksi teman sebaya non-disleksia terhadap mereka di kelas EFL. Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus ini melibatkan tiga siswa berpotensi disleksia dan lima belas teman sebaya non-disleksia dari dua sekolah dasar di Singaraja, Bali. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi kelas. Temuan menunjukkan siswa berpotensi disleksia mengalami kesulitan pada enam aspek: membaca (kesulitan menggabungkan huruf), menulis (kata panjang dan pembalikan huruf), mengeja (kesalahan berulang), pemrosesan fonologis (huruf-bunyi tidak sesuai), persepsi auditori (butuh pengulangan instruksi), serta emosional dan sosial (malu, menarik diri setelah diejek, dan sering menyendiri). Kesulitan ini diperparah oleh ortografi bahasa Inggris yang tidak transparan. Interaksi teman sebaya bervariasi dari bantuan terbatas (terutama dari teman dekat), pandangan negatif (“tidak pintar”, “lambat”), ejekan ringan (tawa atas kesalahan), hingga motivasi berbasis kasihan atau kewajiban. Banyak teman membatasi interaksi karena khawatir nilai kelompok atau merasa teman tersebut tidak bisa berkontribusi. Kurangnya interaksi antar siswa berpotensi disleksia sendiri menunjukkan isolasi sosial yang meluas. Penelitian menyimpulkan bahwa tantangan literasi EFL tidak hanya akademik tetapi juga emosional dan sosial, sementara interaksi teman sebaya masih terbatas pada simpati. Saran meliputi pelatihan kesadaran disleksia bagi guru dan siswa serta aktivitas kooperatif terstruktur untuk meningkatkan inklusi di kelas EFL inklusif Indonesia.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Disleksia, Pendidikan Inklusif, Literasi, Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (EFL), Deskriptif Kualitatif, Perspektif Siswa, Interaksi Sesama Siswa |
| Subjects: | L Education > LC Special aspects of education |
| Divisions: | Fakultas Bahasa dan Seni > Jurusan Bahasa Asing > Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (S1) |
| Depositing User: | Angelica Romauli Silitonga |
| Date Deposited: | 29 Jun 2026 05:41 |
| Last Modified: | 29 Jun 2026 05:41 |
| URI: | http://repo.undiksha.ac.id/id/eprint/29953 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
